sepotong keju

Pagi ini saya ditemani secangkir kopi. manis, sedikit pahit karena dark coklat yang saya campurkan. Setidaknya bikin saya ngerti. Hidup isinya gag Cuma manis aja kan ya. Oke, kayaknya kejauhan.

 

Kopi dan hidup. Beda. Tapi saling menemani.

 

Membuat kehidupan berjalan tidak dengan rem blong. Kadang kadang perlu di rem, berhenti sejenak. Kopi kadang membantu kita untuk menginjak kopling. Semacam itulah.

 

Tengok jendelamu. Matahari mulai meninggi, tik tok tik tok. Iya, ini suara detik waktu. yang kadang kadang lari lepas kendali. Menandai kesetiaan mentari pada pagi. Entah apa yang dimiliki pagi. Sampai mentari tak ingin berpindah hati. Sedikitpun.

 

Cinta, seperti jelaga pada sebuah lentera. Ia butuh berhari hari untuk membentuk ketebalan yang cukup. Lapis demi lapis. Hitam dan semakin hitam. Tapi cukup dengan selembar tisu. Sreet. Hilang.

 

Atau seperti tinta yang tumpah pada saku kemeja. Pyok. Pekat seketika. Dan perlu beberapa bungkus sabun, air, untuk menghapusnya. Kadang sampai tanganmu lelah mencucinya. Menyisakan noda berwarna kelabu.

 

lalu sisa cinta di hatimu seperti sepotong keju, yang kamu letakkan disudut ruangan. Tikus di hatimu akan mengambilnya, lalu hilang. Dan kau akan menggantinya dengan keju yang baru.

 

Sayangnya saya tidak punya tikus. Keju itu masih disana. Menunggu waktu yang akan membuatnya kering. Lalu menjadi sangat kering. Menjadi serbuk. Dan fiuuuh. Hilang tertiup angin.

 

Seperti itu prosesnya. Rumit ya. Tentu saja itu hanya perumpamaan yang dipaksakan. Entah seperti apa pada kenyataannya. Saya berharap ada semut, udara, atau panas matahari. Yang membantu keju itu cepat kering.

 

Matahari semakin tinggi. Semua gurauan ini harus diakhiri. Selamat menjalani hari harimu yang berlagu. Mengajakmu menari, menyanyi, menemanimu berlari, mewujudkan mimpi mimpi.

 

Dan pada suatu pagi yang lain. Kamu akan temukan senyuman. Yang membuatmu percaya, Tuhan menghendakimu lebih bahagia.

One response to “sepotong keju

  1. apik sof tulisanmu, aku ijin copas ini ya…

    Cinta, seperti jelaga pada sebuah lentera. Ia butuh berhari hari untuk membentuk ketebalan yang cukup. Lapis demi lapis. Hitam dan semakin hitam. Tapi cukup dengan selembar tisu. Sreet. Hilang.

    Atau seperti tinta yang tumpah pada saku kemeja. Pyok. Pekat seketika. Dan perlu beberapa bungkus sabun, air, untuk menghapusnya. Kadang sampai tanganmu lelah mencucinya. Menyisakan noda berwarna kelabu.

    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s